welcome

berkaryalah, sekecil apapun itu!!!
101211064

Sabtu, 24 November 2012

Hadits Seni Berbicara (retorika)



Manusia adalah makhluk yang sanggup berkomunikasi lewat bahasa dan berbicara. yang lebih mencirikan hakikat manusia sebagai manusia penuh adalah kepandaian dan keterampilan dalam berbicara. Pengetahuan bahasa saja belum cukup! Kebesaran dan kehebatan seseorang sebagai manusia juga ditentukan oleh kepandaiannya dalam berbahasa, keterampilannya mengungkapkan pikiran secara tepat dan meyakinkan. Seni keterampilan berbicara sering disebut dengan Retorika.
Persoalan berbicara tak dapat dilepaskan sejak sejarah manusia mulai diperkenalkankan. Bahkan Allah SWT memiliki sifat kalam artinya Maha Berfirman. Itulah sebabnya Nabi Musa ketika lidahnya kurang begitu fasih berbicara, maka Allah membimbing dia dengan seubua doa: rabbis rahli shadri wayassirli amri wahlul uqdatam millisani yafqahu qauli (QS. Thaha (20).
Sebagai umat Islam, kita diberi tanggung jawab untuk berdakwah, mengajak kepada kebaikan dan menjauhi keburukan sesuai ajaran Islam. tapi ketika kita berdakwah atau berbicara dengan orang lain, terkadang apa yang kita sampaikan membuat orang tersinggung, bahkan merasa antipati terhadap saran atau nasihat kita. Sesuatu yang sesungguhnya baik bila disalapahami atau bahkan dianggap buruk jika disampaikan secara tidak tepat. Maka seni berbicara (retorika) menjadi penting.
Dalam berkomunikasi khususnya dakwah,kita harus bisa mengerti keadaan orang itu. Dalam perkataan juga harus mempunyai etika, lembut, baik, benar dan rendah hati serta tidak tergesa-gesa dan terkesan memaksakan kehendak, karna untuk merubah seseorang ke hal yng baik itu membutuhkan proses dan bimbingan.
Lalu, apakah ada hadits yang membahas tentang bagaimana seni berbicara (retorika) ? Untuk itu, dalam makalah ini penulis akan memberikan beberapa hadits yang sekiranya bisa dijadikan landasan atau acuan bagaimana beretorika dalam islam sebagai proses dakwah
III
A.    SENI BERBICARA DALAM DAKWAH
1.      Definisi Seni Berbicara (retorika)
seni berbicara (Retorika) adalah suatu gaya/teknik berbicara baik yang dicapai berdasarkan bakat alami (Talenta) dan keterampilan teknis. Dewasa ini retorika diartikan sebagai kesenian untuk berbicara baik, yang dipergunakan dalam proses komunikasi antar manusia. Kesenian berbicara ini bukan hanya berarti berbicara secara lancar tanpa jalan fikiran yang jelas dan tanpa isi, melainkan suatu kemampuan untuk berbicara dan berpidato secara singkat, jelas, padat dan mengesankan. Retorika mencakup ingatan yang kuat , daya kreasi dan fantasi yang tinggi ,teknik pengungkapan yang tepat dan daya pembuktian serta penilaian yang tepat. Ber-retorika juga harus dapat dipertanggung jawabakan disertai pemilihan kata dan nada bicara yang sesuai dengan tujuan, ruang, waktu, situasi, dan siapa lawan bicara yang dihadapi.
Titik tolak retorika adalah berbicara. Berbicara berarti mengucapkan kata atau kalimat kepada seseorang atau sekelompok orang, untuk mencapai suatu tujuan tertentu (misalnya memberikan informasi atau memberi informasi). Berbicara adalah salah satu kemampuan khusus pada manusia. Oleh karena itu pembicaraan setua umur bangsa manusia. Bahasa dan pembicaraan ini muncul, ketika manusia mengucapkan dan menyampaikan pikirannya kepada manusia lain.[1]
Dalam berdakwah, seni berbicara (retorika) dapat diartikan dengan teknik dan kepandaian menyampaikan ajaran Islam secara lisan guna terwujudnya situasi dan kondisi yang Islami seperti yangdikehendaki oleh Allah dan Rasulnya.
2.      Urgensi Seni Berbicara (retorika)
Seni berkomunikai, yang dalam pembahasan ini adalah seni berbicara (Retorika) dibutuhkan dalam medan kehidupan manusia dalam hubungannya dengan manusia lain, atau dengan kata lain; retorika adalah suatu penunjang terjalinnya suatu komunikasi di dalam mencapai suatu tujuan tertentu. Tujuan kita adalah pelaksanaan komunikasi islam sebagai suatu dakwah, dimana dengan seni dan kepandaian berbicara kita berusaha mempengaruhi orang lain, supaya mereka dapat mengalihkan pikirannya dari pikiran- pikiran yang munkar kepada pikiran-pikiran yang sesuai jalan Allah, juga termasuk ideologi, pengetahuan, perilaku dan perbuatannya.
Salah satu faktor komunikasi adalah lisan, yakni berbicara secara langsung kepada massa yang dihadapi. Meskipun timbul berbagai alat komunikasi(media) yang lebih modern, namun retorika masih tetap menjadi keharusan. Bicara masih sangat dominan disamping adanya amalan kerja atau konkrit. Berbicara yang baik dan tepat, dapat memberikan warna didalam setiap pembicaraan, akan sangat mempengaruhi jiwa pendengar, dapat menggetarkan jiwa mereka, membuat mereka sedih, marah, bersemangat, sadar, dan lain- lain sikap yang dapat timbul.
Maka oleh karena itu, kecakapan bicara yang dapat mempengaruhi serta dapat menggetarkan jiwa manusia, hingga dapat berbuat sesuai dengan tujuan yang akan kita capai, adalah merupakan suatu seni. Demikianlah, maka didalam melakukan komunikasi Islam-pun perlu dilengkapi dengan seni berbicara. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya retorika dalam berkomunikasi.[2]
B.     SENI BERBICARA (RETOROIKA) DALAM PRAKTIK
Penyampaian ajaran islam secara lisan umumnya dilakukan dengan ceramah, pidato, atau khutbah, meskipun ada juga yang dalam bentuk dialog. Untuk bisa berceramah dan berkhutbah dengan baik, ada tiga bagian[3] yang hendak kita bahas, yaitu :
1.      Persiapan
Apapun kegiatan yang hendak kita lakukan, persiapan merupakan sesuatu yang amat penting. Dalam berceramah atau berdakwah, persiapan menjadi lebih penting lagi bagi pemula atau siapa saja yang belum berpengalaman. Adapun langkah- langkah yang harus dipersiapkan adalah sebagai berikut.
a.       Mentalitas yang memadai
Persiapan mental dalam berdakwah (ceramah/pidato) adalah dengan menumbuhkan kedalam jiwa kita rasa percaya diri yang tinggi.
b.      Memahami latar belakang jamaah
Memahami latar belakang jamaah memiliki arti yang sangat penting agar kita tahu gambaran keadaan jamaah. Dari sini kita bisa menentukan tema apa yang perlu diangkat atau disinggung.
Ali bin Abi Thalib berkata :
حد ثوا الناس بما يعرفون اتحبون ا ن يكذبون الله ورسوله
“Berbicaralah dengan orang sesuai dengan tingkat kemampuan mereka, apakah engkau suka Allah dan Rasulnya didustakan ?”
Dari Aisyah ra, beliau berkata :
امرنا رسول لله صلى ا لله عليه  وسلم ان ننزل النا س منا زلهم
 “Rasulullah SAW Memerintahkan kepada kami untuk menempatkan manusia sesuai kedudukannya”[4]
c.       Menentukan masalah
Ceramah yang baik adalah ceramah dengan permasalahan atau pembahasan yang jelas, sehingga ceramah itu sendiri tidak simpang siur, karena punya target pembahasan yang jelas.
d.      Mengumpulkan bahan
Setelah tema ditentukan, langkah berikutnya adalah mengumpulkan bahan agar pembahasan materi ceramah bisa disampaikan dengan wawasan yang luas dan ilustrasi yang tepat.
e.       Menyusun sistematika
Untuk memudahkan pembahasan perlu disusun sistematika uraian materi pembahasan dengan sub-sub bahasan berikut dalil dan data lainnya yang menguatkan argumentasi.
f.       Menjaga dan mempersiapkan kondisi fisik
Diamping kesiapan akal dengan mengusai materi yang hendak dibahas, seorang penceramah juga harus menjaga dan juga mempersiapkan kondisi fisiknya agar tetap prima selama berlangsungnya ceramah. Demikian juga dengan penggunaan pakaian yang pantas untuk dikenakan agar menyenangkan mata orang yang memperhatikan sehingga menjadi enak dilihat.
2.      Pelaksanaan  dakwah (pidato/ceramah)
Setelah persiapan dilaksanakan dengan baik, maka berikutnya adalah bagaimana penampilan saat berdakwah (pidato/ceramah), beberapa hal berikut menjadi sesuatu yang harus diperhatikan.

a.       Tampil mengesankan
Meskipun dalam dakwah kita menuntut jamaah untuk menggunakan prinsip “ perhatikan apa yang dibicarakan, jangan perhatikan siapa yang berbicara”, namun penampilan yang mengesankan tetap diperlukan. Misalnya dengan wajah ceria dan tutur kata yang baik, sebagaimana dalam hadits :
وعن ا بى ذ ر رضى الله عنه قال : قال لى رسول الله صلى الله عليه و سلم : لا تحقرن من ا لمعروف شيئا ولو ان تلقى اخا ك بوجه طليق. (رواه مسلم)
"Dari Abu Dzar ra, ia berkata : Rasulullah bersabda kepada saya : “ jangan sekali- sekali meremehkan perbuatan baik, walaupun menyambut saudaramu dengan muka ceria”. (HR. Muslim)
وعن عدى بن حا تم رضى ا لله عنه قال : قال رسول ا لله صلى ا لله عليه وسلم : ا تقو ا النا ر ولو بشق تمر ة . فمن لم يجد فبكلمة طيبة  (متفق عليه)
“ Dari Adiy bin Hatim ra, ia berkata :Rasulullah SAW bersabda : “takutlah kalian terhadap api neraka, walau hanya dengan menyedekahkan separuh biji kurma. Apabila tidak mendapatkannya, cukup dengan berkata yang baik” ( HR. Bukhori dan Muslim)[5]
b.      Menguasai forum
Penceramah (da’i) Terlebih dahulu menguasai dirinya sendiri agar tidak gugup atau grogi. Setelah itu, Insya Allah akan mudah untuk menguasai forum.
Sabda Rasulullah SAW :
“sesungguhnya Allah sangat senang jika salah seorang diantara kamu melakukan sesuatu dengan cara yang tekun(profesional). Sebagaimana yang disebutkan, sesungguhnya Allah mewajibkan untuk berbuat sebaik mungkin dalam segala sesuatu”[6]
c.       Jangan menyimpang
Penceramah harus tetap berpijak pada tema yang sudah dipersiapkan, jangan sampai melebar terlalu jauh dengan membahas hal- hal yang tidak direncanakan untuk dibahas.
Diriwayatkan ada seorang Arab Badui berbicara dihadapan Rasulullah dengan panjang lebar, maka beliau bersabda :
و ا ن ا لله عز و جل يكره الا نبغا ق فى ا لكلام،فنضر ا لله و جه ه مرئ او جز فى كلا مه فا قتصر على حا جته
“ sesungguhnya Allah Azza wajalla membenci berlebih- lebihan dalam pembicaraan. Semoga Allah SWT menerangi wajah seseorang yang mempersingkat pembicaraan sehingga dia meringkas kadar keperluan”[7]
d.      Gaya yang orisinil
Penceramah sebaiknya menggunakan gayanya sendiri. Jangan meniru orang lain. Hal ini akan mempermudah ceramahnya, sekaligus dapat menjaga wibawanya.
e.       Bersikap sederajat
Saat berdakwa (ceramah), sebaiknya bersikap sederajat, jangan terlalu menggurui.karena itu, dalam menyampaikan pesan, gunakanlah istilah “kita” bukan “anda”, apalagi “kalian”.
f.       Mengatur intonasi
Ceramah yang menarik adalah ceramah yang nadany naik turun. Tidak datar terus atau tidak tinggi terus menerus, apalagi bila dalam ceamah berkisah tentang dua orang yang berdialog, tentu hrus dapat dibedakan suara antara tokoh yang satu dengan yang lain.
g.      Mengatur tempo
Dalam memberikan ceramah, seorang penceramah hendaknya mengatur tempo pembicaraan sehingga antara kalimat yang satu dan kalimat berikutnya diberikan jarak. Dari sini seorang penceramah tidak berbicara terlalu cepat atau terlalu lambat.
h.      Memberi tekanan
Kalimat yang amat penting untuk dipertegas kepada pendengar, harus diberi tekanan dengan cara mengulang- ulang, dengan begitu jamaah mendapat kejelasan yang memadai.
وعن عا ئسة رضى ا لله عنها قا لت : كا ن كلا م رسول ا لله صلى ا لله عليه و سلم  كلا م فصلا تفهمه كل من يسمعه (رواه ابو داود)
"Dari Aisyah ra, ia berkata : “perkataan Rasulullah adalah ucapan yang sangat jelas, jika orang lain mendengarnya, pasti dapat memahaminya”. (HR. Abu Daud)[8]
i.        Memelihara kontak dengan jamaah
Ceramah yang sudah berlangsung lebih dari 30 menit biasanya melelahkan jamaah. Oleh karena itu, kontak dengan jamaah jangan sampai terputus, misalnya dengan bertanya, memberi humor yang segar dan relevan.
j.        Pengembangan bahasan
Untuk menambah daya tarik dalam pembahasan, diperlukan pengembangan bahasa. Pertama, penjelasan, yakni keterangan tambahan yang sederhana dan tidak terlalu rinci. Kedua, memberikan contoh yang relevan dengan pembahasan sehingga masalah yang dibahas akan menjadi tambah jelasbdan konkret. Ketiga, memberikan analogi, yaitu perbandingan antara dua hal, baik untuk menunjukkan persamaan maupun perbedaan. Keempat, memberikan testimoni, yakni mengutip, baik ayat, hadits, kata mutiara, keterangan para ahli, buku, dll.
k.      Memberi kesimpulan
Bila diperlukan, penceramah dapat memberikan kesimpulan dari uraiannya, lalu lanjutkan dengan kalimat penutup
3.      Langkah- Langkah Sesudah Berdakwah (pidato/ceramah)
Meskipun ceramah sudah berlangsung dengan baik menurut sang penceramah, ada beberapa hal yang harus dilakukan. Pertama, turun dari podium dan berbicara dengan tenang menuju tempat duduk semula. Kedua, kalau perlu mencari informasi tentang respons jamaah. Ketiga, mengevaluasi ceramah yang sudah disampaikan.
Demikianlah secara umum dakwah (ceramah)yang baik. Bagi yang ingin pandai berceramah tentu saja harus banyak berlatih, baik sendiri atau bersama- sama. Untuk mudah mengeluarkan kata- kata yang baik tentu harus memiliki banyak perbendaharaan kata- kata dan hal itu dapat diperoleh melalui banyak membaca maupun banyak mendengar retorika orang lain.
C.    KESAN SENI BERBICARA (RETORIKA) RASULULLAH SAW
Pada diri Rasulullah SAW terdapat contoh yang baik dalam seni berbicara atau pidato (retorika). Rasulullah adalah seorang orator yang ulung yang dapat memikat hati para pendengar (audience) atau umatnya. Kata- katanya ringkas tetapi padat, berapi-api yang dapat membangkitkan semangat perjuangan bagi para sahabat dan umatnya. Nabi sukses dalam retorikanya, antara lain karena beliau praktis dalam melaksanakan keharusan- keharusan yang mesti dilakukan oleh orator.
1.      Perhatian terhadap auditorium dan audience
Auditorium adalah tempat menyampaikan pembicaraan dakwah atau ceramah, biasanya dilakukan didalam ruangan(masjid) atau di ruang terbuka (lapangan). Seorang da’i, harus teliti memperhatikan masalah auditorium karena sangat mempengaruhi kemantapan para audience (mad’u) dalam menerima pelajaran atau pesan dakwah. Untuk itu kebersihan dan kenyamanan auditorium harus benar- benar diperhatikan. Rasulullah, menyuruh mebersihkan masjid dan menjauhkan segala bau yang kurang sedap, malah lebih dari itu masjid harus dijauhkan dari tempat- tempat pembuangan sampah.
Didalam memberikan dakwah, Rasulullah cukup serius memperhatikan audience, dimana beliau dapat menilai siapa- siapa hanya setengah- setengah, dan siapa- siapa yang acuh tak acuh. Menurut riwayat Bukhari dari Abu Waqi Ak- Laitsi, antara lain : sewaktu Nabi sedang duduk dalam masjid bersaMa dengan orang banyak, datang tiga orang umat. Yang dua orang masuk ke dalam masjid dan memasuki majlis Rasulullah dan satu orang lagi tidak turut masuk. Keduanya berdiri, yang seorang lagi duduk saja dibelakang orang banya. Setelah Rasulullah selesai berbicara dan ketiga orang tadi berlalu, maka beliau berkata : “ yang seorang mencari tempat kepada Allah, maka diberi tempat kepadaAllah, yang seorang  lagi merasa malu, maka malu pula Allah kepadanya, dan yang lain membelakangi saja, maka Allah membelakangi pula padanya”.
2.      Podium dan audience
Agar pembicara (da’i) lebih menonjol tempatnya dari para audience, maka Rasulullah sendiri telah menggunakan podium (mimbar) yang terbuat dari kayu. Mengenai posisi podium dan posisi audience di zaman Nabi, dijelaskan dalam Hadits :
عن ابي سعيد الخدرى قال : ان انبي ص . م خلس ذات يوم على المنير وجلسنا حوله.
“ dari Abu Sa’id Al- Khudri katanya : sesungguhnya Nabi SAW pada suatu hari duduk diatas mimbar dan kami duduk mengelilinginya.” (HR Bukhari)
Dengan posisi yang dijelaskan oleh hadits tersebut, memungkinkan para pendengar bisa menangkap materi dakwah dengan sebaik- baiknya.
3.      Isi pidato (pesan dakwah)
Menurut riwayat Ibnu Majah, beliau menjelaskan apabila Rasulullah akan memulai suatu pembicaraan atau ketika Rasulullah  naik mimbar, selalu meberi salam.
Dengan keterangan diatas, menunjukkan bahwa sunah pidato itu mulai dengan salam, kemudian puji- pujian kepada Allah dan Tasyahud lalu memasuki materi dakwah.
قال جا بر :كا ن رسو ل لله ص م يحطب قائماويجلس بين الخطبتين ويقراءاياتويذكر الناس.
            “ Telah berkata Jabir : Adalah Rasulullah SAW Berkhotbah dengan berdiri, dan ia duduk diantara dua khotbah dan ia baca beberapa ayat dan ia ingatkan manusia” (HR Ahmad dan Muslim)
            Jika Nabi berkhotbah, biasanya tidak panjang tidak bertele- tele, melainkan pendek tetapi padat dan mudah dipahami. Dalam hadits dijelaskan :
قال جابر: كان رسول لله ص م. لايطيل الموعظة اليوم الجمعة انما هو كلمات بسيراة.
            “Telah berkata Jabir : adalah Rasulullah SAW tidak memanjangkan nasihat pada hari Jum’at Khotbahnya itu hanya beberapa kalimat yang mudah”. (HR Abu Dawud)
            Adapun tentang sikap pembicara (da’i) :
“telah berkata Jabir : Adalah Rasulullah bila berkhotbah,merah dua matanya dan keras suaranya dan sangat berangnya, sehingga seolah- olah beliau seorang pemimpin tentara yang berkata : Ingat ! musuh akan menyerang kamu pada waktu pagi dan pada waktu petang” (HR Muslim).
Riwayat ini menunjukkan bahwa sikap dan sifat Nabi dikala berpidato yang menggambarkan semangat beliau yang berapi-api.
            Didalam retorika modern dijelaskan adanya “Repetition” yaitu hukum ulangan, sebagai contoh : pukullah-pukullah untuk kedua kalinya dengan keras dan terus pukul,akhirnya akan menjadi keyakinan.
            Mengenai hal ini Rasulullah bersabda :
عن انس عن النبى ص م انه كا ن ا ذا تكلم بكلمة ا عا د ها ثلا ثا حتى تفهم
 “ Dari Anas : Sesungguhnya Nabi apabila mengucapkan suatu kata-kata diulangnya sampai tiga kali, sehingga orang mengerti maksudnya” (HR Bukhari)
            Mengulang perkataan tiga kali, tentu tidak terus menerus, tetapi hanya pada suatu keadaan yang dipandang perlu, supaya audience benar- benar mengerti.
Sedangkan untuk menjaga kebebasan audience, diterangkan :
“ Dari Abu Wail, katanya : Abdullah bin Umar memberi pelajaran kepada orang- orang banyak pada tiap- tiap hari kamis. Ada seorang lelaki berkata : Hai Abu Abdurrahman ! saya mengharap supaya tuan mengajar kami tiap hari, jawab Abdullah : sesungguhnya yang menjadi halangan ialah, karena nanti akan membuat tuan- tuan bosan (jemu). Saya suka memilih waktu yang baik untuk memberi pelajaran, sebagaimana Nabi juga memilih waktu yang baik untuk mengajar kami, menjaga supaya kami jangan bosan”. (HR Bukhari)
Dari riwayat ini dapat diambil pelajaran, bahwa kitta hendaknya memahami jiwa massa, yakni mengerti batas kesanggupan audience (mad’u) didalam menerima dakwah (mendengarkan ceramah), jangan sampai mad’u merasa bosan.
Oleh karena itu perlu menetapkan waktu yang tepat, didalam mengadakan suatu ceramah atau komunikasi. Demikian juga lebih baik pembicaraan dihentikan sebelum audience (mad’u) menjadi jemu. Adapun audience yang sudah jemu masih teus di isi atau diberi ceramah, akan menimbulkan antipati, yang sudah barang tentu akan merugikan komunikator (da’i).[9]


 IV.            SIMPULAN
Kecakapan bicara yang dapat mempengaruhi serta dapat menggetarkan jiwa manusia, hingga dapat berbuat sesuai dengan tujuan yang akan kita capai, adalah merupakan suatu seni. Demikianlah, maka didalam melakukan komunikasi Islam-pun perlu dilengkapi dengan seni berbicara (retorika).
Penyampaian ajaran islam secara lisan umumnya dilakukan dengan ceramah, pidato, atau khutbah, meskipun ada juga yang dalam bentuk dialog. Untuk bisa berdakwah dengan baik, ada tiga bagian yang hendak kita bahas, yaitu :
1.      Persiapan, meliputi : Mentalitas yang memadai, Memahami latar belakang jamaah, Menentukan masalah, Mengumpulkan bahan, Menyusun sistematika, serta Menjaga dan mempersiapkan kondisi fisik.
2.      Pelaksanaan  dakwah (pidato/ceramah), diantaranya : Tampil mengesankan, Menguasai forum, Jangan menyimpang, Gaya yang orisinil, Bersikap sederajat, Mengatur intonasi, Mengatur tempo, Memberi tekanan, Memelihara kontak dengan jamaah, Pengembangan bahasan, Memberi kesimpulan.
3.      Langkah- Langkah Sesudah Berdakwah (pidato/ceramah), yaitu : Pertama, turun dari podium dan berbicara dengan tenang menuju tempat duduk semula. Kedua, kalau perlu mencari informasi tentang respons jamaah. Ketiga, mengevaluasi ceramah yang sudah disampaikan.
Pada diri Rasulullah SAW terdapat contoh yang baik dalam seni berbicara atau pidato (retorika). Rasulullah adalah seorang orator yang ulung yang dapat memikat hati para pendengar (audience) atau umatnya. Kata- katanya ringkas tetapi padat, berapi-api yang dapat membangkitkan semangat perjuangan bagi para sahabat dan umatnya. Nabi sukses dalam retorikanya, antara lain karena beliau praktis dalam melaksanakan keharusan- keharusan yang mesti dilakukan oleh orator.
    V.            PENUTUP
Demikian makalah Hadits Seni Berbicara yang dapat kami susun. Kami  menyadari bahwa makalah ini  jauh dari kesempurnaan, karena itu saran dan kritik dari pembaca sangat kami harapkan untuk kesempurnaan makalah selanjutnya. Terima kasih, semoga bermanfaat.








DAFTAR PUSTAKA

Yani , Ahmad, Bekal Menjadi Khatib dan Mubaligh,Jakarta : Al- Qalam,2005
Kuswata, Agus Toha, , KOMUNIKASI ISLAM Dari Zaman ke Zaman, Jakarta : Arikha Media      Cipta, 1990.
Munir, M, Metode Dakwah, Ed, Rev cet. 3, Jakarta : Kencana, 2009.
Nawawi, Imam, Terjemah Riyahdus Shalihin jilid 1, Jakarta : Pustaka Amani, i999.
Suprapto,Tommy,Pengantar Teori dan Manajemen Komunikai, Yogyakarta:          MeddPress, 2009.
Saputra , Wahidin, Pengantar Ilmu Dakwah, Jakarta : PT RajaGrafindo Persada,2011



[2] Agus Toha, Kuswata, KOMUNIKASI  ISLAM  Dari Zaman ke Zaman, Jakarta : Arikha Media Cipta, 1990. Hal 103-104
[3] Ahmad, Yani, Bekal Menjadi Khatib dan Mubaligh,Jakarta : Al- Qalam,2005, hal.15-25
[4] M,Munir, Metode Dakwah, Jakarta : Kencana,2009, hal. 103.
[5] Imam, Nawawi, Terjemah Riyadhus Shalihin jilid 1, Jakarta : Pustaka Amani, 1999, hal. 637-638
[6] Wahidin, Saputra, Pengantar Ilmu Dakwah, Jakarta : PT RajaGrafindo Persada,2011, hal. 262.
[7]   M,Munir, Op. Cit, hal 116
[8] Ibid, hal .639
[9]  Agus, Toha Kuswata, Op, Cit, hal.108-112

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar